Kamis, 23 Oktober 2025

Tugas Mandiri 1B

  A11 | Shiva Monalisa | Tugas Mandiri 01

A. Soal Pilihan Ganda (10 Soal)

1. Bahasa Indonesia berfungsi sebagai alat konseptualisasi gagasan. Hal ini menunjukkan peran bahasa sebagai...
a) Alat komunikasi sehari-hari
b) Alat pikir dan ekspresi intelektual
c) Simbol identitas daerah
d) Sarana hiburan semata

2. Dalam konteks dunia akademik, salah satu tantangan utama penggunaan Bahasa Indonesia adalah...
a) Kurangnya penutur asli
b) Dominasi bahasa asing dan kurangnya padanan istilah ilmiah
c) Tidak adanya jurnal ilmiah nasional
d) Kaidah tata bahasa yang terlalu rumit

3. Teks ilmiah berfungsi sebagai jembatan ilmu karena...
a) Ditulis dengan bahasa yang puitis
b) Menghubungkan pengetahuan penulis dengan pemahaman pembaca
c) Selalu diterbitkan dalam dua bahasa
d) Hanya bisa diakses oleh akademisi tertentu

4. Salah satu syarat penulisan karya ilmiah yang baik adalah...
a) Menggunakan bahasa gaul yang kekinian
b) Kepatuhan terhadap kaidah EYD dan PUEBI
c) Panjang tulisan yang tidak terbatas
d) Hanya menggunakan istilah asing

5. Upaya internasionalisasi Bahasa Indonesia dapat dilakukan melalui cara berikut, KECUALI...
a) Publikasi jurnal berbahasa Indonesia yang terindeks global
b) Kolaborasi riset dengan abstrak bilingual
c) Mengganti bahasa pengantar di semua sekolah dengan bahasa Inggris
d) Program pengajaran BIPA (Bahasa Indonesia untuk Penutur Asing)

6. Dasar hukum kedudukan Bahasa Indonesia sebagai bahasa negara ditetapkan dalam...

a) Sumpah Pemuda 1928
b) Undang-Undang Dasar 1945
c) Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan
d) Keputusan Presiden pertama

7. Fungsi bahasa Indonesia yang menyatukan keragaman budaya dan etnis di Indonesia dikenal sebagai fungsi...
a) Komunikatif
b) Edukatif
c) Identitas Nasional
d) Ilmiah

8. Lembaga pemerintah yang bertugas mengembangkan dan membina Bahasa Indonesia adalah...
a) LIPI
b) Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa (Badan Bahasa)
c) Kementerian Luar Negeri
d) UNESCO

9. Salah satu strategi untuk memartabatkan Bahasa Indonesia di ranah ilmu pengetahuan adalah...
a) Pengembangan istilah baru yang sesuai kaidah
b) Menghindari penggunaan bahasa Indonesia dalam diskusi ilmiah
c) Menerjemahkan semua jurnal internasional ke bahasa daerah
d) Hanya menggunakan bahasa Indonesia untuk sastra

10. Menurut modul, bahasa Indonesia berkembang menjadi bahasa ilmu, hukum, pendidikan, dan teknologi. Hal ini menunjukkan...
a) Bahasa Indonesia kaku dan tidak berkembang
b) Kedudukan bahasa Indonesia yang dinamis dan multifungsi
c) Bahasa Indonesia hanya untuk kepentingan formal
d) Fungsi bahasa Indonesia semakin menyempit

B. Soal Isian Singkat (10 Soal)

1. Bahasa bukan sekadar alat komunikasi, tetapi juga medium pikir dan ekspresi intelektual

2. Dalam Sumpah Pemuda 1928, Bahasa Indonesia diikrarkan sebagai bahasa persatuan

3. Salah satu fungsi bahasa Indonesia adalah sebagai bahasa ilmu pengetahuan untuk menyusun dan menyebarluaskan gagasan akademik.

4. Program yang dirancang untuk mengajarkan Bahasa Indonesia kepada penutur asing disebut BIPA (Bahasa Indonesia untuk Penutur Asing)

5.Penulisan karya ilmiah menuntut ketepatan bahasa dan kejelasan struktur kalimat.

6. Kemampuan literasi akademik meliputi analisis struktur, pemahaman makna, dan evaluasi argumentasi dalam sebuah teks ilmiah.

7. Kedudukan bahasa Indonesia sebagai bahasa negara berarti digunakan dalam administrasi, pendidikan, dan hukum.

8. Pengembangan kosakata atau istilah ilmiah diperlukan untuk mengatasi tantangan kurangnya padanan istilah dalam bahasa Indonesia.

9. Upaya memartabatkan bahasa Indonesia dapat dilakukan melalui publikasi ilmiah berbahasa Indonesia dan peningkatan literasi akademik.

10. Salah satu buku rujukan utama untuk tata bahasa baku Indonesia adalah buku Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia yang disusun oleh Anton M. Moeliono.

C. Soal Esai (5 Soal)

1. Jelaskan mengapa bahasa Indonesia disebut sebagai "wahana intelektual dan ilmiah" dan berikan minimal dua contoh konkret perwujudannya dalam dunia akademik!

Jawaban: 
Bahasa Indonesia disebut sebagai wahana intelektual dan ilmiah karena digunakan untuk berpikir, menalar, dan menyampaikan gagasan secara sistematis dalam konteks pendidikan, penelitian, dan komunikasi akademik. Melalui bahasa Indonesia, ilmu pengetahuan dapat dikembangkan dan disebarluaskan kepada masyarakat luas.

Contoh konkret:
  • Penulisan skripsi, tesis, dan disertasi di perguruan tinggi menggunakan bahasa Indonesia baku.
  • Publikasi jurnal ilmiah nasional seperti Jurnal Bahasa dan Sastra serta Jurnal Pendidikan Indonesia menggunakan bahasa Indonesia.


2. Analisislah hubungan antara "bahasa" dan "pembangunan ilmu pengetahuan" di Indonesia! Mengapa penguatan peran bahasa Indonesia dianggap crucial (sangat penting) dalam konteks ini?

Bahasa merupakan alat berpikir dan sarana penyampai ilmu pengetahuan. Tanpa bahasa yang kuat dan terstandar, pengembangan ilmu tidak dapat berlangsung dengan baik. Di Indonesia, penguatan bahasa Indonesia penting agar hasil penelitian nasional dapat diakses masyarakat luas dan tidak bergantung pada bahasa asing. Hal ini mendukung kemandirian dan keberlanjutan ilmu pengetahuan nasional.

3. Berdasarkan modul, terdapat sejumlah tantangan dalam memartabatkan bahasa Indonesia sebagai bahasa ilmu. Identifikasi dua tantangan utama tersebut dan proposalkan satu solusi strategis untuk mengatasi masing-masing tantangan!

Tantangan 1: Dominasi bahasa asing (terutama Inggris) dalam publikasi ilmiah internasional.
Solusi: Meningkatkan kualitas dan reputasi jurnal berbahasa Indonesia agar terindeks global.
Tantangan 2: Keterbatasan padanan istilah ilmiah dalam berbagai disiplin ilmu.
Solusi: Mendorong kolaborasi antara ahli bahasa dan ilmuwan untuk menciptakan istilah baru yang sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia.

4. Jelaskan perbedaan mendasar antara kedudukan bahasa Indonesia sebagai "bahasa nasional" dan sebagai "bahasa negara"! Berikan satu contoh penggunaan untuk masing-masing kedudukan tersebut.

Sebagai bahasa nasional, bahasa Indonesia berfungsi sebagai lambang identitas nasional dan alat pemersatu bangsa.
Contoh: Digunakan dalam lagu kebangsaan, upacara, dan komunikasi antar suku.
Sebagai bahasa negara, digunakan dalam administrasi pemerintahan, pendidikan, hukum, dan dokumen resmi negara.
Contoh: Digunakan dalam undang-undang, surat keputusan, dan proses pembelajaran di sekolah.

5.Menurut Anda, bagaimana peran generasi muda (mahasiswa) dalam upaya internasionalisasi bahasa Indonesia? Sebutkan minimal dua aksi nyata yang dapat dilakukan.

Generasi muda memiliki peran strategis dalam memperkenalkan dan memperluas penggunaan bahasa Indonesia di tingkat global.
Aksi nyata yang dapat dilakukan:
Mengikuti atau mempublikasikan karya ilmiah dalam bahasa Indonesia di forum nasional maupun internasional.
Menjadi pengajar atau relawan dalam program BIPA (Bahasa Indonesia untuk Penutur Asing).
Menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar di media sosial dan karya akademik untuk memberi teladan positif.

    Kamis, 16 Oktober 2025

    Tugas Mandiri 2A

     A11 | Shiva Monalisa | Tugas Mandiri 2A

    RINGKASAN MATERI PEMBELAJARAN 2

    Bahasa baku dan Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia (PUEBI) memiliki peran yang sangat penting dalam konteks akademik. Keduanya berfungsi sebagai pedoman untuk memastikan bahwa komunikasi ilmiah dilakukan secara sistematis, logis, dan dapat dipertanggungjawabkan. Bahasa baku digunakan sebagai standar dalam penulisan karya ilmiah agar penyampaian ide, gagasan, dan hasil penelitian dapat diterima secara objektif dan tidak menimbulkan penafsiran ganda.

    Penguasaan bahasa baku mencerminkan kedisiplinan berpikir dan kematangan intelektual penulis dalam dunia akademik. Bahasa baku menuntut ketepatan diksi, kejelasan struktur kalimat, serta kesesuaian dengan konteks ilmiah. Di sisi lain, PUEBI menjadi acuan utama dalam penerapan ejaan, tanda baca, serta penulisan huruf kapital dan kata serapan, sehingga seluruh bentuk tulisan memiliki konsistensi dan keseragaman sesuai kaidah bahasa Indonesia yang benar.

    Dalam kegiatan akademik seperti penulisan laporan penelitian, makalah, maupun skripsi, penggunaan bahasa baku dan penerapan PUEBI berperan penting dalam menjaga kredibilitas dan etika ilmiah. Kepatuhan terhadap kaidah kebahasaan menunjukkan sikap ilmiah, tanggung jawab akademik, serta penghargaan terhadap bahasa Indonesia sebagai bahasa ilmu pengetahuan.

    Dengan demikian, kemampuan mahasiswa dalam menggunakan bahasa baku dan mengikuti pedoman PUEBI merupakan indikator kompetensi akademik yang baik. Penguasaan ini tidak hanya mendukung kualitas penulisan ilmiah, tetapi juga memperkuat peran bahasa Indonesia sebagai sarana pengembangan ilmu pengetahuan di tingkat nasional maupun internasional.

    Tugas Mandiri 4B

    A11 | Shiva Monalisa | Tugas Mandiri 4B

    10 Soal Isian

    1. Kaidah bahasa dalam penulisan akademik mencakup tata bahasa, ejaan, diksi, dan gaya bahasa ilmiah.

    2. Kalimat efektif harus memiliki lima ciri utama, yaitu kehematan, kepaduan, kejelasan, kesatuan, dan ketepatan.

    3. Struktur dasar kalimat Bahasa Indonesia yang digunakan dalam teks akademik dikenal dengan istilah Subjek–Predikat–Objek–Keterangan (SPOK).

    4. Contoh kata serapan dari bahasa Inggris yang telah disesuaikan secara fonologis adalah komputer.

    5. Dalam teks akademik, penggunaan kata ganti seperti “saya” sebaiknya dihindari dan diganti dengan kata penulis.

    6. Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan edisi kelima dikenal dengan singkatan EYD V.

    7. Huruf miring dalam penulisan akademik digunakan untuk menuliskan judul buku, nama ilmiah, dan istilah asing yang belum diserap.

    8. Kesalahan struktur paralel dalam kalimat dapat menyebabkan ketidakjelasan makna dan menurunkan kualitas tulisan.

    9. Salah satu teknologi yang dapat digunakan untuk membantu revisi bahasa ilmiah adalah Grammarly atau Typely.

    10. Menurut modul, revisi bahasa ilmiah merupakan bagian dari proses akademik yang berkelanjutan.

    5 Soal Esai

    1. Jelaskan mengapa penggunaan kaidah bahasa yang tepat dalam teks akademik dianggap sebagai indikator profesionalisme dan integritas ilmiah seorang penulis. Penggunaan kaidah bahasa yang tepat dalam teks akademik menunjukkan profesionalisme dan integritas ilmiah karena mencerminkan kemampuan penulis menjaga keakuratan makna, kejelasan informasi, dan konsistensi penulisan. Bahasa yang baku dan objektif memperlihatkan bahwa penulis menghargai etika ilmiah serta menghindari kesalahan interpretasi.

    2. Uraikan lima ciri kalimat efektif dalam penulisan akademik dan berikan masing-masing satu contoh kalimat yang sesuai. Lima ciri kalimat efektif meliputi:

      • Kehematan: menghindari kata berlebih.
        Contoh: “Mahasiswa mengikuti seminar ilmiah.”

      • Kepaduan: hubungan antarkalimat logis.
        Contoh: “Penelitian ini bertujuan mengkaji dampak teknologi terhadap produktivitas.”

      • Kejelasan: struktur mudah dipahami.
        Contoh: “Data dikumpulkan melalui observasi lapangan.”

      • Kesatuan: memiliki satu pokok pikiran.
        Contoh: “Setiap paragraf harus membahas satu topik.”

      • Ketepatan: penggunaan kata sesuai makna.
        Contoh: “Hasil penelitian menunjukkan peningkatan signifikan.”

    3. Bandingkan peran huruf kapital dan huruf miring dalam penulisan akademik menurut EYD V. Sertakan contoh penggunaannya dalam kalimat. Huruf kapital digunakan pada awal kalimat, nama diri, dan unsur resmi lembaga; sedangkan huruf miring dipakai untuk istilah asing dan judul karya tulis.
      Contoh kapital: “Universitas Sebelas Maret.”
      Contoh miring: “Penelitian ini menggunakan metode content analysis.”

    4. Mengapa revisi bahasa ilmiah penting dilakukan sebelum naskah dipublikasikan? Jelaskan langkah-langkah self-editing yang dapat dilakukan oleh mahasiswa. Revisi bahasa ilmiah penting dilakukan agar naskah bebas dari kesalahan logika, ejaan, dan struktur. Langkah self-editing mencakup membaca ulang naskah, memeriksa struktur kalimat, memperbaiki diksi, memastikan kesesuaian EYD, serta meminta umpan balik dari rekan sejawat.

    5. Dalam konteks penulisan akademik, bagaimana pemilihan diksi dan gaya bahasa dapat memengaruhi persepsi pembaca terhadap kredibilitas tulisan? Pemilihan diksi dan gaya bahasa memengaruhi kredibilitas tulisan karena menentukan tingkat keilmiahan dan objektivitas. Diksi yang tepat membuat argumen kuat dan meyakinkan, sedangkan gaya bahasa yang formal dan konsisten menunjukkan kemampuan berpikir sistematis dan profesionalisme akademik.

    Tugas Mandiri 4A

     A11 | Shiva Monalisa | Tugas Mandiri 4A

    Teks akademik merupakan bentuk komunikasi ilmiah yang digunakan di lingkungan pendidikan tinggi untuk menyampaikan gagasan, analisis, dan hasil penelitian secara sistematis, objektif, serta berbasis data. Sementara itu, teks ilmiah merupakan hasil karya tulis yang lahir dari proses penelitian atau kajian teoritis yang bertujuan mengembangkan pengetahuan dan memberikan kontribusi terhadap bidang ilmu tertentu. Perbedaan utama antara keduanya terletak pada fungsi dan orientasi: teks akademik berfungsi sebagai media pembelajaran dan pelatihan berpikir ilmiah, sedangkan teks ilmiah berorientasi pada penyebarluasan hasil penelitian yang dapat dipertanggungjawabkan secara metodologis.

    Karakteristik teks ilmiah mencakup penggunaan bahasa yang objektif, logis, sistematis, konsisten, dan terbebas dari unsur emosional. Struktur teks akademik umumnya terdiri atas pendahuluan, kajian teori, metode, hasil dan pembahasan, serta simpulan. Dalam penulisannya, prinsip dasar yang harus diperhatikan mencakup ketepatan tata bahasa, kesesuaian ejaan dengan Ejaan Bahasa Indonesia (EYD) edisi kelima, pemilihan diksi yang tepat, kalimat efektif, serta keseragaman gaya bahasa ilmiah.

    Selain penguasaan teknis kebahasaan, kemampuan literasi kritis juga sangat penting dalam menulis teks akademik. Literasi kritis membantu penulis menilai validitas sumber, menafsirkan argumen secara reflektif, dan mengembangkan pemikiran ilmiah yang rasional. Untuk meningkatkan literasi akademik, perlu diterapkan strategi seperti pelatihan penulisan ilmiah, peningkatan kemampuan membaca kritis, serta pemanfaatan teknologi digital dalam penyuntingan dan revisi naskah.

    Dengan demikian, penguasaan kaidah bahasa akademik bukan sekadar keterampilan menulis, melainkan bentuk tanggung jawab ilmiah dan profesionalisme dalam dunia akademik.


    Tugas Mandiri 3B

    A11 | Shiva Monalisa | Tugas Mandiri 3B

    A. Isian Singkat (10 Soal)

    1. Teks akademik biasanya digunakan dalam konteks pendidikan tinggi untuk menyampaikan gagasan, analisis, dan refleksi.

    2. Perbedaan utama antara teks akademik dan teks ilmiah terletak pada tujuan, struktur, dan tingkat kedalaman analisis.

    3. Struktur umum teks akademik terdiri dari tiga bagian utama, yaitu pendahuluan, isi, dan penutup.

    4. Teks ilmiah biasanya mengikuti alur logis dengan struktur IMRAD yang berarti Introduction, Methods, Results, and Discussion.

    5. Salah satu ciri khas teks ilmiah adalah objektivitas, artinya penulis tidak memasukkan opini pribadi tanpa dasar ilmiah.

    6. Semua klaim dalam teks ilmiah harus didukung oleh data atau referensi yang terpercaya.

    7. Salah satu prinsip penulisan akademik adalah menghindari plagiarisme dengan cara mencantumkan sumber secara konsisten.

    8. Literasi kritis mencakup kemampuan menilai validitas informasi atau argumen dalam sebuah teks.

    9. Jenis teks akademik yang bertujuan menjelaskan konsep secara logis disebut teks eksposisi.

    10. Salah satu solusi untuk meningkatkan literasi akademik mahasiswa adalah menyediakan pelatihan atau workshop menulis akademik secara berkala.

    B. Pertanyaan Esai (5 Soal)

    1. Jelaskan perbedaan mendasar antara teks akademik dan teks ilmiah, baik dari segi tujuan maupun struktur penulisan. Perbedaan mendasar antara teks akademik dan teks ilmiah terletak pada orientasi dan tujuannya. Teks akademik bertujuan melatih kemampuan berpikir kritis dan menulis reflektif, sedangkan teks ilmiah berorientasi pada penyajian hasil penelitian empiris yang dapat diuji dan dipublikasikan. 

    2. Mengapa penggunaan bahasa baku sangat penting dalam teks ilmiah? Sertakan contoh kalimat untuk memperkuat jawaban.Penggunaan bahasa baku penting dalam teks ilmiah karena mencerminkan ketepatan, kejelasan, dan kredibilitas ilmiah. Misalnya, kalimat “Penelitian ini menunjukkan peningkatan signifikan dalam hasil belajar mahasiswa” lebih tepat dibanding “Hasilnya lumayan meningkat.”

    3. Bagaimana peran literasi kritis dalam membantu mahasiswa menjadi pembaca dan penulis akademik yang lebih baik? Literasi kritis membantu mahasiswa menjadi pembaca dan penulis akademik yang lebih baik karena melatih mereka menilai keabsahan sumber, memahami konteks, dan menyusun argumen secara logis.

    4. .Uraikan prinsip-prinsip utama dalam penulisan akademik yang baik dan berikan contohnya. Prinsip-prinsip penulisan akademik mencakup kejelasan ide, sistematika, ketepatan bahasa, konsistensi gaya penulisan, dan etika akademik. Contohnya, penulis harus selalu mencantumkan sitasi dan daftar pustaka untuk menghindari plagiarisme.

    5. Menurut Anda, bagaimana implikasi kemampuan menulis dan membaca teks akademik secara kritis terhadap kualitas pendidikan tinggi di Indonesia? Implikasi kemampuan menulis dan membaca teks akademik secara kritis adalah meningkatnya mutu pendidikan tinggi, karena mahasiswa mampu berpikir reflektif, berargumentasi ilmiah, dan berpartisipasi aktif dalam pengembangan ilmu pengetahuan di Indonesia.

    Tugas Mandiri 3A

    A11 | Shiva Monalisa | Tugas Mandiri 03A

    Mengenal Teks Akademik dan Ilmiah: Fondasi Literasi di Dunia Pendidikan Tinggi

    Teks akademik merupakan tulisan yang digunakan dalam konteks pendidikan tinggi untuk menyampaikan gagasan, analisis, dan refleksi berdasarkan kajian ilmiah. Sementara itu, teks ilmiah adalah tulisan yang disusun berdasarkan hasil penelitian sistematis dan bertujuan mengembangkan ilmu pengetahuan. Perbedaan utama antara keduanya terletak pada fungsi dan orientasinya: teks akademik berfokus pada proses berpikir kritis dan pembelajaran, sedangkan teks ilmiah menitikberatkan pada penyajian data, bukti empiris, dan hasil riset yang dapat diverifikasi.

    Karakteristik utama teks ilmiah meliputi objektivitas, sistematis, logis, dan didukung oleh referensi yang valid. Penulis diharapkan menyampaikan argumen secara rasional dan bebas dari opini pribadi. Sementara itu, struktur teks akademik umumnya terdiri atas pendahuluan, isi, dan penutup, yang berfungsi membangun alur berpikir yang koheren. Dalam teks ilmiah, struktur yang umum digunakan adalah IMRAD (Introduction, Methods, Results, and Discussion).

    Prinsip penulisan akademik yang baik meliputi kejelasan, ketepatan, konsistensi gaya penulisan, serta etika akademik seperti menghindari plagiarisme. Penulis wajib mencantumkan sumber rujukan secara tepat untuk menunjukkan integritas ilmiah. Literasi kritis memiliki peran penting dalam proses membaca dan menulis akademik, karena memungkinkan mahasiswa menilai validitas argumen, mengenali bias, serta membangun pemikiran reflektif.

    Peningkatan literasi akademik dapat dilakukan melalui pelatihan menulis, pembiasaan membaca karya ilmiah, serta bimbingan akademik berkelanjutan. Dengan demikian, kemampuan membaca dan menulis secara kritis menjadi fondasi utama dalam menciptakan sivitas akademika yang berkualitas di dunia pendidikan tinggi.

    Tugas Mandiri 2B

     A11 | Shiva Monalisa | Tugas Mandiri 02B

    A. Soal Pilihan Ganda (10 Soal)

    1. Fungsi utama bahasa Indonesia dalam konteks akademik adalah …
      a. Alat komunikasi sehari-hari
      b. Alat berpikir dan ekspresi intelektual 
      c. Bahasa populer di media sosial
      d. Bahasa pengantar informal

    2. Ciri utama bahasa akademik adalah …
      a. Menggunakan bahasa santai
      b. Banyak menggunakan ungkapan emosional
      c. Formal, objektif, dan presisi istilah 
      d. Bebas dari aturan ejaan

    3. Struktur karya ilmiah umumnya mengikuti format …
      a. SWOT
      b. IMRAD 
      c. SMART
      d. SWOT-IMRAD

    4. Yang termasuk jenis teks ilmiah adalah …
      a. Artikel jurnal 
      b. Status media sosial
      c. Iklan komersial
      d. Puisi populer

    5. Kesalahan dalam penggunaan bahasa akademik dapat menyebabkan …
      a. Tulisan lebih kreatif
      b. Berkurangnya kredibilitas karya ilmiah 
      c. Pembaca lebih cepat memahami
      d. Gagasan lebih mudah diterima

    6. Internasionalisasi bahasa Indonesia dapat dilakukan melalui …
      a. Program BIPA 
      b. Penyederhanaan kosakata populer
      c. Mengurangi publikasi ilmiah
      d. Menghindari kolaborasi internasional

    7. Etika akademik dalam penulisan karya ilmiah menuntut mahasiswa untuk …
      a. Menulis bebas tanpa aturan
      b. Menghindari plagiarisme 
      c. Memperbanyak opini pribadi
      d. Menggunakan bahasa populer

    8. Salah satu ciri kalimat dalam bahasa akademik adalah …
      a. Bertele-tele dan panjang
      b. Tidak logis
      c. Efektif dan padat makna 
      d. Mengutamakan bahasa gaul

    9. Contoh nyata peran bahasa Indonesia sebagai sarana ekspresi intelektual adalah …
      a. Membuat status singkat di WhatsApp
      b. Menulis makalah ilmiah 
      c. Membuat meme lucu
      d. Menulis surat pribadi

    10. Upaya memartabatkan bahasa Indonesia di tingkat global dapat dilakukan melalui …
      a. Diplomasi kebahasaan 
      b. Mengurangi publikasi ilmiah
      c. Membatasi istilah ilmiah baru
      d. Mengabaikan kaidah PUEBI

    B. Soal Isian (10 Soal)

    1. Bahasa berfungsi bukan hanya sebagai alat komunikasi, tetapi juga sebagai alat berpikir dan sarana pengembangan ilmu pengetahuan. 

    2. Bahasa akademik menuntut penggunaan istilah dan struktur kalimat yang konsisten dan sesuai bidang ilmu. 

    3. Format umum karya ilmiah adalah IMRAD (Introduction, Methods, Results, and Discussion). 

    4. Salah satu contoh teks ilmiah adalah artikel jurnal. 

    5. Kesalahan penggunaan ejaan dan istilah dapat mengurangi kredibilitas karya ilmiah.

    6. Penulisan karya ilmiah harus mematuhi etika akademik, termasuk menghindari plagiarisme. 

    7. Program internasionalisasi bahasa Indonesia untuk penutur asing disebut BIPA (Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing).

    8. Bahasa Indonesia yang baik dan benar mencerminkan kualitas intelektual penulisnya.

    9. Artikel jurnal, buku ajar, dan laporan penelitian termasuk dalam jenis teks ilmiah. 

    10. Penggunaan bahasa Indonesia dalam forum internasional dapat memperkuat identitas dan martabat bangsa. 

    C. Soal Esai (5 Soal)

    1. Jelaskan peran bahasa Indonesia sebagai alat ekspresi dan pikir intelektual!→ Bahasa Indonesia berperan sebagai alat ekspresi dan pikir intelektual karena menjadi sarana untuk mengungkapkan gagasan, konsep, serta hasil pemikiran ilmiah secara logis dan sistematis. Melalui bahasa Indonesia, mahasiswa dan akademisi dapat menulis karya ilmiah, berdiskusi ilmiah, serta mengembangkan ilmu pengetahuan nasional.

    1. Mengapa bahasa akademik harus bersifat formal, objektif, dan presisi? Berikan contohnya!
      → Bahasa akademik harus bersifat formal agar terjaga profesionalitas, objektif agar berbasis fakta bukan opini, dan presisi agar maknanya tidak ambigu. Contoh: “Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor yang memengaruhi produktivitas tenaga kerja,” bukan “Saya ingin tahu kenapa pekerja jadi malas.”

    1. Analisislah fungsi teks ilmiah sebagai jembatan ilmu pengetahuan bagi masyarakat!
      → Teks ilmiah berfungsi sebagai jembatan antara dunia akademik dan masyarakat karena berisi hasil penelitian yang dapat digunakan untuk menyelesaikan masalah sosial, ekonomi, maupun budaya. Dengan demikian, teks ilmiah membantu penerapan ilmu pengetahuan secara nyata dalam kehidupan masyarakat.

    1. Bagaimana strategi memartabatkan bahasa Indonesia agar diakui sebagai bahasa ilmu global?
      → Strateginya meliputi peningkatan jumlah publikasi ilmiah berbahasa Indonesia, memperluas program BIPA, memperbanyak kerja sama internasional, serta mendorong penerjemahan karya ilmiah Indonesia ke berbagai bahasa. Diplomasi kebahasaan juga penting agar bahasa Indonesia dikenal luas di dunia akademik global.

    1. Menurut Anda, apa tantangan terbesar dalam internasionalisasi bahasa Indonesia di era globalisasi?
      → Tantangan terbesarnya adalah dominasi bahasa Inggris sebagai bahasa ilmu pengetahuan dunia. Selain itu, keterbatasan istilah ilmiah dalam bahasa Indonesia dan rendahnya minat peneliti asing untuk belajar bahasa Indonesia juga menjadi kendala. Solusinya adalah memperkaya kosakata ilmiah dan memperluas pengajaran BIPA di luar negeri.

    Kamis, 09 Oktober 2025

    Tugas Terstruktur 03

    Mind Mapping - Eksplorasi Teks Akademik : Kajian, Bahasa, dan Penalaran




    A11 | Shiva Monalisa | Tugas Terstruktur 03

    EKSPLORASI TEKS AKADEMIK: KAJIAN NILAI, BAHASA, DAN PENALARAN

    A. Pendahuluan

    Latar Belakang

    Kajian akademik dalam bidang arsitektur tradisional memiliki peran penting untuk memahami hubungan antara bentuk, fungsi, dan nilai budaya yang tercermin dalam warisan arsitektur Nusantara. Salah satu objek yang menarik adalah rumah adat Mbaru Niang di Desa Wae Rebo, Nusa Tenggara Timur. Rumah ini bukan sekadar tempat tinggal, tetapi juga simbol identitas dan spiritualitas masyarakat setempat.

    Jurnal ini yang dikaji dalam eksplorasi

    1. Louis, M. (2015) – Fungsi dan Makna Ruang pada Rumah Adat Mbaru Niang Wae Rebo (Jurnal INTRA, Vol.3 No.2).

    2. Pradipto, E. & Tristanto, K. (2021) – Ketahanan Sistem Struktur Bangunan terhadap Angin: Studi Kasus Mbaru Niang di Desa Wae Rebo (Jurnal Arsitektur Pendapa, Vol.4 No.1).

    3. Umbung, C.D.O. dkk. (2021) – Pariwisata Tradisional Rumah Adat Mbaru Niang di Dusun Wae Rebo (Jurnal Integrasi dan Harmoni Inovatif Ilmu Sosial, Vol.1 No.11).

    Ketiganya menyoroti Mbaru Niang dari sisi yang berbeda fungsi ruang, struktur bangunan, dan nilai sosial budaya namun berpadu dalam memperlihatkan identitas arsitektur lokal Indonesia.

    Tujuan

    • Mengidentifikasi struktur dan ciri khas teks akademik dalam ketiga jurnal.

    • Menganalisis penggunaan bahasa akademik, objektivitas, dan kosakata ilmiah.

    • Menelusuri nilai keilmuan serta dukungan teori dan data yang digunakan.

    • Menggali nilai-nilai kebangsaan yang tercermin, seperti pelestarian budaya, etika ilmiah, dan semangat nasionalisme akademik.

    B. Metodologi

    Pendekatan yang digunakan adalah analisis deskriptif kualitatif dengan teknik pembacaan kritis dan interpretatif terhadap ketiga teks jurnal.

    Langkah-langkah eksplorasi:

    1. Membaca struktur teks untuk mengidentifikasi unsur akademik (abstrak, pendahuluan, metode, hasil, dan kesimpulan).

    2. Mengkaji gaya bahasa akademik dan kosakata ilmiah yang digunakan.

    3. Menelusuri teori atau pendekatan ilmiah yang mendasari setiap penelitian.

    4. Mengidentifikasi nilai kebangsaan yang muncul dari konteks arsitektur dan budaya lokal Wae Rebo.

    C. Hasil dan Pembahasan

    1. Struktur dan Ciri Khas Teks Akademik

    Ketiga jurnal memiliki pola struktur akademik yang konsisten:

    • Abstrak dwibahasa (Indonesia–Inggris)

    • Pendahuluan yang memuat latar belakang dan tujuan penelitian

    • Metode penelitian dengan pendekatan kualitatif

    • Hasil dan pembahasan sistematis

    • Kesimpulan dan rekomendasi

    Perbedaan fokus penelitian:

    • Louis (2015) → Fokus pada fungsi dan makna ruang dengan pendekatan semiotika Pierce.

    • Pradipto (2021) → Meneliti ketahanan struktur terhadap angin dengan pendekatan rasionalistik dan teknis.

    • Umbung (2021) → Menganalisis pariwisata tradisional dan nilai simbolik budaya Mbaru Niang.

    Ketiganya memperlihatkan integrasi kuat antara teori dan praktik lapangan.

    2. Analisis Bahasa Akademik

    Ciri bahasa akademik dalam ketiga jurnal:

    • Gaya bahasa formal, objektif, dan lugas.

    • Menggunakan istilah teknis seperti semiotika, sistem struktur, sendi, jepit, ikat, hekang kode, dan komponen simbolik.

    • Menghindari ungkapan emosional dan mengutamakan kejelasan logis.

    • Setiap jurnal menyertakan data empiris dan hasil wawancara sebagai bentuk dukungan ilmiah.

    Louis (2015) menonjol dalam penggunaan bahasa simbolik dan interpretatif, sedangkan Pradipto (2021) menunjukkan struktur bahasa teknis yang presisi, dan Umbung (2021) menampilkan gaya deskriptif etnografis yang komunikatif.

    3. Nilai Keilmuan

    • Louis (2015) memperlihatkan penerapan teori semiotika Pierce untuk menjelaskan hubungan tanda, ruang, dan makna dalam struktur Mbaru Niang.

    • Pradipto (2021) memberikan kontribusi ilmiah dalam bidang teknologi arsitektur vernakular, menunjukkan efektivitas sistem struktur sederhana terhadap gaya angin.

    • Umbung (2021) menghubungkan arsitektur tradisional dengan pariwisata budaya, menekankan makna simbolik tiap komponen dan keberlanjutan fungsi sosialnya.

    Ketiganya didukung data empiris berupa wawancara, observasi lapangan, dan studi literatur, menunjukkan keabsahan ilmiah yang kuat.

    4. Nilai Kebangsaan

    Nilai kebangsaan tercermin dari:

    • Pelestarian budaya lokal: Rumah adat Mbaru Niang dipertahankan sebagai warisan arsitektur bangsa.

    • Etika akademik: Semua penulis menghindari plagiarisme dan mencantumkan sumber ilmiah secara sah.

    • Kemandirian ilmiah: Mengutamakan kearifan lokal tanpa ketergantungan pada konsep modern Barat.

    • Nasionalisme arsitektur: Menunjukkan kebanggaan terhadap bentuk, struktur, dan nilai budaya Indonesia.

    D. Kesimpulan dan Rekomendasi

    Kesimpulan

    • Ketiga jurnal memiliki struktur akademik lengkap dan mengikuti standar penulisan ilmiah.

    • Bahasa yang digunakan objektif dan menunjukkan penguasaan istilah teknis bidang arsitektur.

    • Nilai keilmuan kuat karena berbasis teori dan pengamatan lapangan.

    • Nilai kebangsaan tampak dari semangat pelestarian budaya, etika ilmiah, dan nasionalisme desain.

    Rekomendasi

    • Penulis jurnal selanjutnya dapat memperluas kajian empiris melalui studi komparatif antar daerah adat.

    • Integrasi antara teori arsitektur vernakular dan teknologi modern berkelanjutan perlu diperkuat.

    • Eksplorasi terhadap nilai simbolik arsitektur tradisional dapat digunakan sebagai sumber inspirasi desain kontemporer Indonesia.

    Tugas Terstruktur 02

     

    Mind Map `Pentingnya Bahasa Baku dan PUEBI dalam Dunia Akademik`




    Pentingnya Bahasa Baku dan PUEBI dalam Dunia Akademik


    Abstrak

    Bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan memiliki fungsi strategis dalam dunia akademik. Penggunaan bahasa baku yang sesuai dengan Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia (PUEBI) tidak hanya menjaga keseragaman kaidah bahasa, tetapi juga mendukung komunikasi ilmiah yang efektif, jelas, dan kredibel. Artikel ini membahas pentingnya bahasa baku dan PUEBI dalam penulisan akademik, permasalahan yang muncul akibat penggunaan bahasa yang tidak sesuai, serta solusi penerapan bahasa baku secara konsisten. Hasil pembahasan menunjukkan bahwa penggunaan bahasa baku dan PUEBI berperan penting dalam meningkatkan kualitas karya ilmiah, memperkuat identitas akademik, dan menjaga wibawa bahasa Indonesia.

    Kata kunci: Bahasa Baku, PUEBI, Akademik, Penulisan Ilmiah, Bahasa Indonesia


    Pendahuluan

    Dalam dunia akademik, bahasa berfungsi sebagai sarana komunikasi ilmiah yang menuntut kejelasan, ketepatan, dan konsistensi. Bahasa baku merupakan bentuk bahasa yang sesuai dengan kaidah tata bahasa, ejaan, dan kosakata yang diakui secara resmi. Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia (PUEBI) hadir sebagai acuan untuk menjaga keseragaman dalam penulisan bahasa Indonesia. Tanpa penerapan bahasa baku dan PUEBI, tulisan akademik rentan menimbulkan ambiguitas, kesalahpahaman, serta menurunkan kredibilitas penulis maupun lembaga akademik. Oleh karena itu, memahami dan menerapkan bahasa baku serta PUEBI adalah kewajiban bagi civitas akademika.


    Permasalahan

    Beberapa masalah yang muncul terkait penggunaan bahasa baku dan PUEBI dalam dunia akademik antara lain:

    1. Kurangnya pemahaman mahasiswa dan penulis terhadap aturan bahasa baku dan PUEBI.

    2. Pengaruh bahasa nonformal (bahasa gaul, media sosial) yang sering terbawa ke dalam tulisan akademik.

    3. Inkonistensi penggunaan ejaan dalam karya ilmiah, seperti penulisan huruf kapital, tanda baca, dan kata serapan.

    4. Kurangnya kesadaran akademisi bahwa bahasa baku mencerminkan kualitas intelektual karya tulis.

    5. Minimnya pembiasaan penggunaan PUEBI dalam kegiatan akademik sehari-hari.


    Pembahasan

    1. Bahasa Baku dalam Akademik

    Bahasa baku adalah bahasa yang digunakan sesuai dengan aturan tata bahasa, kosakata, serta ejaan yang berlaku. Dalam konteks akademik, bahasa baku memiliki fungsi:

    • Sebagai sarana komunikasi ilmiah yang jelas dan terukur.

    • Sebagai standar penulisan agar karya tulis dapat dipahami secara universal.

    • Sebagai identitas akademik yang membedakan karya ilmiah dari tulisan populer atau nonformal.

    2. PUEBI sebagai Pedoman Penulisan

    PUEBI mengatur kaidah penulisan huruf, kata, tanda baca, dan tata cara penulisan unsur serapan. Perannya antara lain:

    • Menjaga konsistensi penulisan dalam dokumen akademik.

    • Menjadi acuan resmi dalam penulisan karya ilmiah, skripsi, tesis, dan disertasi.

    • Membantu menghindari kesalahpahaman dalam komunikasi tertulis.

    3. Konsekuensi Pengabaian Bahasa Baku dan PUEBI

    Apabila bahasa baku dan PUEBI diabaikan, beberapa dampak yang mungkin timbul adalah:

    • Menurunnya kualitas karya ilmiah.

    • Timbulnya kesalahan interpretasi pembaca.

    • Hilangnya kredibilitas penulis dan institusi akademik.

    • Terhambatnya perkembangan bahasa Indonesia sebagai bahasa ilmu pengetahuan.

    4. Upaya Peningkatan Penggunaan Bahasa Baku dan PUEBI

    Beberapa strategi untuk meningkatkan penerapan bahasa baku dan PUEBI adalah:

    • Pelatihan intensif bagi mahasiswa dan dosen.

    • Integrasi materi PUEBI dalam kurikulum pendidikan tinggi.

    • Pengawasan akademik melalui bimbingan penulisan karya ilmiah.

    • Pemanfaatan teknologi seperti aplikasi pengecek ejaan dan tata bahasa.


    Kesimpulan dan Saran

    Kesimpulan

    Bahasa baku dan PUEBI merupakan fondasi penting dalam dunia akademik. Penggunaannya menjamin kejelasan, ketepatan, dan kredibilitas karya tulis ilmiah. Permasalahan yang muncul akibat kurangnya pemahaman dan kesadaran penggunaan bahasa baku dapat diatasi dengan pembiasaan, pelatihan, dan penerapan aturan yang konsisten.

    Saran

    1. Mahasiswa perlu membiasakan diri menggunakan bahasa baku dalam setiap aktivitas akademik.

    2. Dosen dan institusi akademik perlu lebih menekankan pentingnya PUEBI dalam setiap penugasan.

    3. Penerbitan akademik harus melakukan penyuntingan bahasa secara ketat sesuai PUEBI.

    4. Pemerintah dan lembaga bahasa perlu memperkuat sosialisasi penggunaan bahasa baku di berbagai jenjang pendidikan.


    Daftar Pustaka

    • Modul 1: Bahasa Indonesia untuk Dunia Akademik.

    • Alwi, H., Dardjowidjojo, S., Lapoliwa, H., & Moeliono, A. M. (2010). Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.

    • Moeliono, A. M., & Dendy Sugono. (2017). Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia (PUEBI). Jakarta: Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa.

    • Chaer, A. (2012). Linguistik Umum. Jakarta: Rineka Cipta.

    Tugas Terstruktur 01

     

    Mind Map "Bahasa Indonesia dan Peranannya dalam Menyatukan Keberagaman Budaya"

    Bahasa Indonesia dan Peranannya dalam Menyatukan Keberagaman Budaya

    Abstrak

    Bahasa Indonesia sejak awal kemerdekaan telah menjadi salah satu pilar utama dalam membangun persatuan bangsa. Dengan latar belakang masyarakat yang sangat majemuk, baik dari segi etnis, budaya, maupun bahasa, keberadaan Bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan merupakan penopang bagi terwujudnya integrasi nasional. Artikel ini membahas proses historis lahirnya Bahasa Indonesia, perannya dalam mempersatukan masyarakat yang multikultural, serta tantangan dan peluang yang dihadapi di era globalisasi. Melalui kajian literatur dari Modul 1 dan beberapa referensi ilmiah, dapat disimpulkan bahwa Bahasa Indonesia bukan hanya sarana komunikasi, tetapi juga lambang identitas nasional yang memperkuat rasa kebangsaan.

    Kata kunci: Bahasa Indonesia, bahasa persatuan, identitas nasional, keberagaman budaya

    Pendahuluan

    Indonesia dikenal dunia sebagai negara kepulauan yang sangat kaya akan budaya. Terdapat ribuan pulau, ratusan etnis, serta ratusan bahasa daerah yang berbeda-beda. Keberagaman ini merupakan kekayaan yang luar biasa, namun sekaligus dapat menjadi sumber perpecahan apabila tidak dikelola dengan baik. Oleh karena itu, diperlukan suatu perekat yang mampu menyatukan seluruh perbedaan tersebut dalam satu bingkai nasional.

    Bahasa Indonesia dipilih sebagai bahasa persatuan sejak Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928. Keputusan ini sangat strategis karena pada saat itu bangsa Indonesia sedang mencari identitas nasional yang mampu menampung keberagaman. Pemilihan bahasa Melayu sebagai dasar Bahasa Indonesia dianggap tepat sebab bahasa tersebut sudah lama menjadi lingua franca di Nusantara dan tidak melekat pada kelompok etnis tertentu.

    Permasalahan

    Dalam konteks artikel ini, terdapat beberapa permasalahan pokok yang dikaji, yaitu:

    1. Bagaimana proses historis Bahasa Indonesia ditetapkan sebagai bahasa persatuan?

    2. Apa saja peran Bahasa Indonesia dalam menyatukan keberagaman budaya?

    3. Tantangan apa yang dihadapi Bahasa Indonesia di era globalisasi?

    4. Strategi apa yang dapat ditempuh untuk memperkuat fungsi pemersatu Bahasa Indonesia?

    Pembahasan

    Sejarah Bahasa Indonesia sebagai Bahasa Persatuan

    Bahasa Indonesia lahir dari bahasa Melayu yang sudah digunakan sejak berabad-abad lalu di kawasan Nusantara, khususnya dalam perdagangan antarpulau. Bahasa ini dipandang sederhana, mudah dipelajari, dan sudah dikenal luas oleh berbagai suku bangsa. Ketika para pemuda mengikrarkan Sumpah Pemuda, mereka dengan sadar memilih Bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan, bukan bahasa daerah mayoritas, untuk menghindari dominasi etnis tertentu.

    Sejak saat itu, bahasa ini berkembang pesat. Dalam UUD 1945 Pasal 36 ditegaskan bahwa Bahasa Indonesia adalah bahasa negara. Kedudukannya semakin mantap setelah digunakan dalam pendidikan, administrasi pemerintahan, media massa, hingga karya sastra. Dengan demikian, Bahasa Indonesia menjadi simbol kemerdekaan dan persatuan bangsa.

    Peran Bahasa Indonesia dalam Menyatukan Keberagaman

    Fungsi pemersatu Bahasa Indonesia tampak nyata dalam kehidupan sehari-hari. Di sekolah, bahasa ini menjadi bahasa pengantar utama, sehingga seluruh anak bangsa dari Aceh hingga Papua dapat mengakses pendidikan dengan standar yang sama. Dalam komunikasi antarwarga, Bahasa Indonesia memudahkan masyarakat dari latar belakang berbeda untuk berinteraksi.

    Selain itu, Bahasa Indonesia juga menjadi identitas bangsa di mata dunia. Ketika delegasi Indonesia hadir dalam forum internasional, Bahasa Indonesia yang digunakan mencerminkan kedaulatan dan kebanggaan nasional. Bahasa ini juga menjadi medium bagi lahirnya karya sastra, film, musik, dan berbagai produk budaya lain yang memperkuat integrasi nasional.

    Tantangan Bahasa Indonesia di Era Globalisasi

    Di tengah derasnya arus globalisasi, Bahasa Indonesia menghadapi berbagai tantangan. Pertama, semakin dominannya bahasa asing, terutama bahasa Inggris, dalam bidang teknologi, sains, dan bisnis. Hal ini membuat sebagian masyarakat, khususnya generasi muda, lebih mengutamakan bahasa asing dibandingkan bahasa nasional.

    Kedua, munculnya fenomena bahasa gaul dan campuran bahasa (code mixing) yang berlebihan di media sosial. Walaupun hal ini dapat dipandang sebagai dinamika kebahasaan, penggunaan yang tidak terkendali dapat mengikis kesadaran untuk berbahasa sesuai kaidah.

    Ketiga, posisi bahasa daerah yang semakin terpinggirkan. Ironisnya, dalam upaya memperkuat Bahasa Indonesia, banyak masyarakat yang justru meninggalkan bahasa ibu mereka. Padahal bahasa daerah juga merupakan bagian penting dari identitas budaya.

    Strategi Memperkuat Bahasa Indonesia

    Untuk menghadapi tantangan tersebut, beberapa langkah perlu dilakukan. Pemerintah harus konsisten menegakkan kebijakan penggunaan Bahasa Indonesia dalam administrasi, pendidikan, dan media. Lembaga pendidikan juga harus mampu mengajarkan Bahasa Indonesia dengan metode kreatif sehingga menarik bagi generasi muda.

    Media massa dan platform digital sebaiknya menjadi ruang yang sehat bagi penggunaan Bahasa Indonesia yang baik dan benar, namun tetap luwes mengikuti perkembangan zaman. Masyarakat, khususnya generasi muda, perlu menyadari bahwa menggunakan Bahasa Indonesia secara bangga adalah bagian dari menjaga identitas bangsa di tengah dunia yang semakin terbuka.

    Kesimpulan dan Saran

    Bahasa Indonesia merupakan salah satu fondasi utama dalam menjaga persatuan bangsa di tengah keberagaman budaya. Sejarah panjang sejak Sumpah Pemuda 1928 hingga saat ini membuktikan bahwa bahasa ini mampu menjembatani perbedaan dan membentuk identitas kolektif bangsa. Namun, tantangan globalisasi, dominasi bahasa asing, serta menurunnya kesadaran generasi muda menjadi persoalan yang harus segera diatasi.

    Saran yang dapat diajukan adalah perlunya penguatan pendidikan bahasa di sekolah dengan pendekatan kontekstual, pemanfaatan media digital untuk memperluas literasi kebahasaan, serta kesadaran kolektif masyarakat dalam menjaga martabat Bahasa Indonesia. Dengan langkah-langkah tersebut, Bahasa Indonesia akan tetap kokoh sebagai bahasa persatuan dan simbol identitas bangsa.

    Daftar Pustaka

    • Modul 1. (2025). Bahasa Indonesia sebagai Bahasa Persatuan dan Bahasa Negara.

    • Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa. (2020). Peta Bahasa di Indonesia. Jakarta: Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

    • Chaer, Abdul. (2015). Bahasa Indonesia sebagai Bahasa Nasional. Jakarta: Rineka Cipta.

    • Nababan, P.W.J. (1991). Sosiolinguistik: Suatu Pengantar. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

    • Sneddon, James. (2003). The Indonesian Language: Its History and Role in Modern Society. Sydney: UNSW Press.


    Tugas Terstruktur 04

      A11 | Shiva Monalisa | Tugas Terstruktur 4 Project Based Learning (PjBL) Eksplorasi Teks Akademik: Kajian Nilai, Bahasa, dan Penalaran A...